CONTOH SPESIES DAN BENTUK ADAPTASI TERHADAP SUBSTRAT LUNAK

0
95

Pelecypoda atau Bivalvia

Pelecypoda memiliki habitat dalam lumpur dan pasir dalam laut serta danau, tersebar pada kedalaman 0,01 – 500 m dan termasuk dalam kelompok orgnisme dominan yang menyusun makrofauna di dasar lunak (Nyibaken, 1992).

Anggota kelas pelecypoda mempunyai cara hidup yang beragam, ada yang membedakan diri, menempel pada substrat dengan benang bisus (bisus) atau zat perekat lainnya, bahkan ada yang berenang aktif.

Biasanya hidup dengan menguburkan diri di dalam habitatnya dan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dengan satu kaki yang dapat dijulurkan di sebelah anterior cangkangnya.

 Menurut kebiasaan hidupnya, pelecypoda digolongkan ke dalam kelompok makrobenthos dengan cara pengambilan makanan melalui penyaringan zat-zat tersuspensi yang ada dalam perairan atau filter feeder.

Makanan berupa organisme atau zat-zat terlarut yang berada dalam air. Makanan diperoleh dengan tabung siphon dengan cara memasukkan air kedalam siphon dan menyaring zat-zat terlarut.

Air dikeluarkan kembali melalui saluran lainnya. Makin dalam kerang membenamkan diri makin panjang tabung siphonnya. Nybakken mengklasifikasikan bivalvia ke dalam kelompok pemakan suspensi, penggali dan pemakan deposit. Karena itu jumlahnya cenderung melimpah pada sedimen lumpur dan sedimen lunak.

Di daerah intertidal, kehidupan pelecypoda dipengaruhi oleh pasang surut. Adanya pasang surut menyebabkan daerah ini kering dan fauna ini terkena udara terbuka secara periodik.

Bersentuhan dengan udara terbuka dalam waktu lama merupakan hal yang penting karena fauna ini berada pada kisaran suhu terbesar akan memperkecil kesempatan memperoleh makanan dan akan mengalami kekeringan yang dapat memperbesar kemungkinan terjadinya kematian.

Oleh karena itu fauna tersebut memerlukan adaptasi untuk bertahan hidup dan harus menunggu pasang naik untuk memperoleh makanan.

Suhu memberikan pengaruh tidak langsung kepada kehidupan bivalvia.

Bivalvia dapat mati jika kehabisan air yang disebabkan oleh meningkatnya suhu. Gerakan ombak berpengaruh pula terhadap komunitasnya dan harus beradaptasi dengan kekuatan ombak. Perubahan salinitas turun juga mempengaruhinya.

Ketika daerah ini kering oleh pasang surut dan kemudian digenangi air atau aliran air hujan salinitas menurun. Kondisi ini dapat melewati batas toleransinya dan dapat mengalami kematian (Nyibakken, 1992). Salah satu jenis bivalvia yang dapat hidup di daerah mangrove Oatrea spesies dan Geloina cocxans (Dahlia 2009).

Geloina cocxans
Gambar: Geloina cocxans
 

Salah satu bentuk adaptasi bivalvia yaitu dengan adanya alat pernapasan (branchial apparatus) yang dinamakan ktenidium (ctenidium) adalah penyaring aktif yang mengambil oksigen dan bahan organik dari air, dan menolak apa saja yang dapat menyumbat alat penyaring itu (Romimohtarto dan Sri, 2005).

Polychaeta

Jenis cacing umumnya hidup di substrat lunak yakni Polychaeta contohnya Capitella capitata. Cacing ini termasuk pemakan deposit pada permukaan sedimen dengan kedua palpus yang panjang berfungsi sebagai penangkap deposit serta sejumlah insang di bagian dorsal sebagai alat pernapasan dalam tabung. Bentuk adaptasi cacing polychaeta pada substrat berlumpur yakni adanya lapisan kutikula transparan di bagian dorsal yang mengandung pigmen sebagai pengikat oksigen dan adanya variasi morfologi pada lembaran insangnya (preverensi habitat dan keragaman Spionidae (Hakim, 2008).
Capitella capitala
Gambar : Capitella capitata


image