Mikroorganisme dan Makroorganisme Indikator Pencemaran

0
67

Mikroorganisme dan Makroorganisme Indikator Pencemaran

Mikroorganisme indikator dapat dibedakan menjadi indikator bakteri, indikator virus, dan indikator protozoa:

Indikator Bakteri

Terdapat lima bakteri yang umum digunakan sebagai indikator:
  • Koliform
  • Koliform tinja
  • Streptococcus Tinja – Enterococcus
  • Clostridium
  • Pseudomonas

Indikator Virus

Terdapat empat mikroorganisme yang digunakan sebagai indikator virus.
  • Kolifage
  • Kolifage jantan
  • Fage Bacteroides fragilis
  • Fage Salmonella

Indikator Protozoa

Tidak ada indikator yang berlaku secara universal bagi parasit protozoa. Indikator bergantung pada sumber air yang dugunakan pada suatu daerah tertentu. Contoh yang telah diidentifikasi adalah indikasi menggunakan spora Clostridium dan bakteri aerob termostabil.

Tingkat keanekaragaman bentos pada perairan tertentu merupakan cerminan variasi dari toleransinya terhadap kisaran parameter lingkungan. 

Adanya kelompok bentos yang hidup menetap (sessile) dan daya adaptasi yang bervariasi terhadap kondisi lingkungan membuat bentos seringkali digunakan sebagai petunjuk bagi penilaian kualitas air. 

Keberadaan makrozoobentos berkaitan erat dengan kondisi fisika, kimia, dan biologi dari substrat tempat hidupnya yang saling berinteraksi dengan proses atau pun komponen yang ada dalam  air terdekatnya. 

Dengan demikian apabila suatu sungai mendapat masukan limbah, yang dengan dinamikanya terdistribusi ke dalam seluruh badan air, maka komponen-komponen di bagian dasar sungai pun akan menerima akibatnya.

Mikroorganisme ini juga tidak memerlukan tempat yang besar, mudah ditumbuhkan dalam media buatan, dan tingkat pembiakannya relative cepat (Darkuni, 2001).

Setiap mikroorganisme memiliki peranan dalam kehidupan, baik yang merugikan maupun yang menguntungkan. Mikroorganisme memiliki banyak peranan dalam kehidupan, baik peranan yang menguntungkan maupun peranan yang merugikan. Salah satu peranannya yang merugikan adalah karena beberapa jenis mikroorganisme dapat menyebabkan penyakit dan menimbulkan pencemaran.

Sedangkan peranan yang menguntungkan adalah peranannya dalam meningkatkan kesuburan tanah melalui fiksasi nitrogen, bioremediasi, produksi antibodi, dan lain-lain.

Mikroorganisme dalam lingkungan alamiah jarang terdapat sebaga biakanmurni. Berbagai spesimen tanah atau air boleh jadi mengandung bermacam-macamspesies cendawan, protozoa, algae, bakteri, dan virus.

Karena itu konsep kultur murniyang diterapkan terdahulu harus dinilai kembali didalam penelaahan ekosistem mikroba.Teknik-teknik biakan murni diperlukan untuk dapat mengidentifikasi berbagai spesiesdalam suatu habitat tertentu.

Namun, transformasi kimiawi yang diwujudkan olehkumpulan mikroorganisme ini tidak dapat ditentukan hanya dengan semata-matamenghimpun sifat-sifat biokimiawi setiap spesies sebagaimana ditentukan dalam biakanmurni.

Dalam hal ini, jumlah sifat tiap bagian tidak selalu sama dengan keseluruhannya.Hal ini disebabkan karena beberapa macam interaksi dapat terjadi diantara spesies,mengakibatkan diperolehnya suatu hasil akhir yang berbeda dari yang dihasilkan olehspesies masing-masing individu didalam biakan murni.

Dipandang dari segi ekosistemmikroba alamiah, biakan murni merupakan suatu keadaan artifisial (tidak asli). Sedangkan mikroorganisme indikator adalah sekelompok mikroorganisme yang digunakan sebagai petunjuk kualitas air. 

Mikroorganisme indikator telah digunakan untuk mendeteksi dan menghitung kontaminasi tinja di air, makanan, dan sampel lainnya. 

Bakteri coliform adalah golongan bakteri intestinal, yaitu hidup dalam saluran pencernaan manusia. Bakteri coliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri patogenik lain.

Lebih tepatnya, sebenarnya, bakteri coliform fekal adalah bakteri indikator adanya pencemaran bakteri patogen. Penentuan coliform fekal menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah koloninya pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri patogen.

Bakteri coliform merupakan parameter mikrobiologis terpenting bagi kualitas air minum. Kelompok bakteri coliform, antara lain Eschericia coli, Enterrobacter aerogenes, dan Citrobacter fruendii.

Keberadaan bakteri di dalam air minum itu menunjukkan tingkat sanitasi rendah. Keberadaan bakteri ini juga menunjukkan adanya bakteri patogen lain, misalnya, Shigella, yang menyebabkan diare hing muntaber.

Materi fekal yang masuk ke dalam badan air, selain membawa bakteri patogen juga akan membawa bakteri pencemar yang merupakan flora normal saluran pencernaan manusia, misalnya E. coli. Kehadiran bakteri ini dapat digunakan sebagi indicator pencemaran air oleh materi fekal.

Mikroorganisme dan Makroorganisme Indikator Pencemaran
Gambar 1 : Bakteri E.Coli

Bakteri coliform timbul karena buangan kotoran manusia dan laundry dari rumah tangga yang merembes dari sungai-sungai dan juga disebabkan oleh pencemaran mata air atau air baku, lemahnya sistem filterisasi.

Oleh karena itu, air minum harus bebas dari semua jenis coliform. Semakin tinggi tingkat kontaminasi bakteri coliform, semakin tinggi pula risiko kehadiran bakteri-bakteri patogen lain yang biasa hidup dalam kotoran manusia dan hewan.

E. coli jika masuk ke dalam saluran pencernaan dalam jumlah banyak dapat membahayakan kesehatan. Menurut Pelczar & Chan (2008) walaupun E. coli merupakan bagian dari mikroba normal saluran pencernaan, tapi saat ini telah terbukti bahwa galur-galur tertentu mampu menyebabkan gastroeritris taraf sedang hingga parah pada manusia dan hewan.

 
Mikroorganisme dan Makroorganisme Indikator Pencemaran
 
Gambar 2 : Grafik Perbandingan Jumlah Kandungan Bakteri E.Coli dan Total Coliform ada beberapa Lokasi

Salah satu contoh bakteri patogen-yang kemungkinan terdapat dalam air terkontaminasi kotoran manusia atau hewan berdarah panas adalah Shigella, yaitu mikroba penyebab gejala diare, deman, kram perut, dan muntah-muntah.

Jenis bakteri coliform tertentu, misalnya E coli O:157:H7, bersifat patogen dan juga dapat menyebabkan diare atau diare berdarah, kram perut, mual, dan rasa tidak enak badan. Contoh mikroba Shigella:

Mikroorganisme dan Makroorganisme Indikator Pencemaran 2
 
Gambar 3 : contoh mikroba Shigella

Kepekaan jenis makrozoobentos terhadap limbah organik dikelompokkan menjadi tiga, yaitu kelompok intoleran atau sensitif, fakultatif atau moderat, dan toleran. 

Keberadaan kelompok biota tersebut dapat digunakan untuk menunjukkan keadaan suatu aliran  sungai.  Dengan kata lain kehadiran kelompok  toleran dan ketidak hadiran kelompok intoleran dapat digunakan sebagai petunjuk adanya pencemaran dalam perairan (Wilhm 1975). 

Namun terdapat pula jenis-jenis makrozoobetos yang dapat dijumpai atau tersebar di berbagai kondisi perairan sehingga tidak dapat digunakan sebagai petunjuk adanya pencemaran dalam perairan dan digolongkan sebagai kelompok non indikator dan yang termasuk dalam kelompok ini antara lain Malacostraea dan beberapa Coleoptera (Mason, 1993).

Organisme toleran dapat tumbuh dan berkembang dalam kisaran perubahan kondisi lingkungan yang lebar dan organisme dan sering dijumpai pada perairan berkualitas buruk. 

Pada umumnya kelompok organisme ini tidak peka terhadap berbagai tekanan lingkungan dan kelimpahannya tinggi di perairan (sungai) yang telah tercemar bahan organik, termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah cacing tibificida.

Organisme fakultatif atau intermediat adalah organisme yang dapat bertahan hidup pada kisaran perubahan kondisi lingkungan yang tidak terlalu lebar. Kelompok ini dapat bertahan hidup pada perairan yang banyak mengandung bahan organik. 

Meskipun demikian kelompok ini tidak dapat mentolerir tekanan lingkungan dan cukup peka terhadap penurunan kualitas perairan. 

Kelompok yang termasuk dalam kelompok ini, antara lain, sebagian jenis dari Odonata, Gastropoda, Diptera, dan Crustacea.

Organisme intoleran adalah organisme yang hanya dapat tumbuh dan berkembang dalam kisaran perubahan kondisi lingkungan yang sempit. 

Organisme ini jarang ditemui di perairan yang kaya akan bahan organik serta sangat peka terhadap penurunan kualitas perairan.  Yang termasuk dalam kelompok ini, antara lain sebagian jenis dari Ephemeroptera, Trichoptera, Coleoptera, and Plecoptera (Wilhm 1975).

Lebih lanjut Wilhm (1975) menguraikan bahwa perairan yang tidak tercemar atau bersih memperlihatkan keseimbangan komunitas makrozoobentos.  Di dalamnya hidup jenis dari kelompok intoleran diselingi jenis dari kelompok fakultatif dan tidak ada jenis dari kelompok tertentu yang mendominasi. 

Perairan yang tercemar sedang memperlihatkan adanya pengurangan atau hilangnya jenis dari kelompok intoleran dan bertambahnya jenis dari kelompok fakultatif serta dari kelompok toleran yang mulai mendominasi.  Pada perairan tercemar terlihat adanya pembatasan jumlah jenis dalam komunitas makrozoobentos.  Kelompok fakultatif dan intoleran mulai hilang digantikan oleh kelompok toleran. 

Hilangnya semua jenis makrozoobentos kecuali oligichaeta dan organisme yang bisa mengambil oksigen dari udara menandakan perairan tercemar berat.

Faktor fisika dan kimia perairan tidak terpisahkan dari keberadaan makrozoobentos.  Keterkaitan yang ada menghasilkan pola distribusi yang beragam sesuai dengan daya adaptasi makrozoobentos. 

Sebagai contoh, dengan mengabaikan berbagai tingkat gangguan manusia, tipe sedimen dan aliran air merupakan faktor utama yang signifikan dalam membatasi pola mikrodistribusi dari makrozoobentos (Cummins, 1975). 

Menurut Pond (2009), faktor fisika, kimia, dan biologi  yang dapat mempengaruhi keadaan dan penyebaran makrozoobentos, antara lain adalah kecepatan arus, suhu, kekeruhan,  substrat dasar, kedalaman, TSS, pH, DO, kandungan padatan tersuspensi (TSS), amonia (NH3-N), makanan, kompetisi hubungan pemangsaan, dan penyakit.

Hewan invertebrata juga mampu menjadi indikator pencemaran, dimana Capung memiliki peran penting terhadap lingkungan dan kehidupan manusia, maka tidak bisa dianggap enteng.

Meski hewan kecil tapi menjadi indikator air bersih. Capung tak bisa hidup di sembarang perairan. Serangga ini harus hidup di air bersih. Karena itu, jika di suatu sumber air tak ditemukan capung, masyarakat sekitar harus berhati-hati.

Tandanya sumber air itu sudah tercemar dan ekosistemnya terganggu. Kehidupan capung memang tidak dapat dipisahkan dari air. Sebelum menjadi capung dewasa, capung hidup sebagai serangga air selama beberapa bulan atau beberapa tahun. Hewan itu hanya dapat bertahan hidup di dalam air yang bersih dan tidak tercemar. “Capung hanya mau hidup di air bersih. Karena itu, capung menjadi penentu apakah air bersih atau tidak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here