PENGERTIAN ANTIOKSIDAN

0
185
Pengertian Antioksidan adalah zat yang menyebabkan molekul menjadi lambat atau antioksidan yang menyebabkan terjadinya stres oksidatif pada molekul. Antioksidan enzim yaitu katalase, glutation peroksidase, dan superoksida dismutase (SOD) . Antioksidan dikelompokkan menjadi antioksidan non enzimatik (ekstraseluler) dan antioksidan enzimatik (enzim).
Antioksidan nonenzimatik (ekstraseluler) contohnya ialah : vitamin E, vitamin C, beta-karoten, selenium, glutation, ceruloplasmin, albumin, dan asam urat. Berdasarkan mekanisme kerja antioksidan, antioksidan dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu:
 
1. Antioksidan primer
Antioksidan yang bekerja dengan cara mencegah terbentuknya radikal bebas yang baru dan mengubah radikal bebas menjadi molekul yang tidak merugikan disebut sebagai Antioksidan primer. Contohnya adalah Butil Hidroksi Toluen (BHT), Tersier Butyl Hidro Quinon (TBHQ), propil galat, tokoferol alami maupun sintetik dan alkil galat.
 
2. Antioksidan sekunder
Senyawa yang berfungsi menangkap radikal bebas serta mencegah terjadinya reaksi berantai sehingga tidak terjadi kerusakan yang lebih besar disebut sebagai antioksidan primer. Contohnya adalah vitamin C, vitamin E,  dan betakaroten yang dapat diperoleh dari buah-buahan.
 
3. Antioksidan tersier
Senyawa yang memperbaiki sel-sel dan jaringan yang rusak karena serangan radikal bebas merupakan antioksidan tersier. Antioksidan pada kelompok ini adalah jenis enzim misalnya metionin sulfoksidan reduktase yang dapat memperbaiki DNA dalam inti sel. Enzim Metionin sulfooksidan reduktase bermanfaat untuk perbaikan DNA pada penderita kanker.
Sebagaimana diketahui bahwa dapat terbentuk radikal bebas di dalam tubuh manusia. Pengertian radikal bebas adalah atom, molekul atau senyawa yang dapat berdiri sendiri, mempunyai satu atau lebih elektron tidak berpasangan pada orbital terluarnya.
Elektron yang ada di dalam tubuh dapat ditarik oleh radikal bebas dan menyebabkan ketidakstabilan sehingga sulit untuk dideteksi. Radikal bebas dalam tubuh yang berlebih dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan dan dapat menimbulkan beberapa penyakit degeneratif seperti penyakit jantung, hipertensi, dan kanker. Dalam keadaan normal, zat anti oksidan dapat menetralisir radikal bebas. Antioksidan adalah zat yang dapat memperlambat atau menghambat stress oksidatif pada molekul target.
Radikal bebas dapat terbentuk dari senyawa non radikal melalui reaksi redoks (menerima atau melepaskan elektron) melalui absorbsi radiasi (ionisasi, Ultraviolet) atau jika ikatan kovalen dalam suatu senyawa pecah (homolitic fusion) atau karena adanya reaksi foton (photon).
Banyak orang beranggapan bahwa radikal bebas hanya merugikan tubuh semata, pendapat ini tidak tepat karena radikal bebas juga berperan penting dalam proses-proses biokimiawi yang diperlukan tubuh. Proses-proses itu seperti reaksi oksidasi suatu zat yang melibatkan sitokrom P450, pengaturan kontraksi otot polos, dan proses fagositosis. Kehadiran radikal bebas yang berlebih dapat menimbulkan kerusakan, antara lain :
 
1. Kerusakan protein
Terjadinya kerusakan protein termasuk oksidasi protein akan mengakibatkan kerusakan jaringan tempat protein itu berada, sebagai contoh kerusakan protein pada lensa mata mengakibatkan terjadinya katarak.
 
2. Kerusakan DNA
Radikal bebas hanya salah satu dari banyak faktor yang menyebabkan kerusakan DNA. Sebagai akibat kerusakan DNA ini dapat timbul penyakit kanker. Kerusakan dapat berupa kerusakan awal, fase transisi dan permanen.
 
3. Membran sel

Terutama komponen penyusun membran berupa asam lemak tak jenuh yang merupakan bagian dari fosfolipid dan mungkin juga protein. Serangan radikal hidroksil pada asam lemak tak jenuh dimulai dengan interaksi oksigen pada rangkaian karbon pada posisi tak jenuh sehingga terbentuk lipid hidroperoksida, yang selanjutnya merusak bagian sel dimana hidroperoksida ini berada.

 
Penelitian tentang antioksidan
Berdasarkan penelitian yang ada telah diketahui bahwa bunga rosella mempunyai senyawa antioksidan yang dibuktikan menggunakan spektrofotometri uv-vis. Oleh karena itu, maka pada penelitian ini akan dilakukan uji aktivitas ekstrak etanol 70% kelopak rosella secara in vitro untuk melindungi sel darah merah domba yang diberikan perlakuan stres oksidatif menggunakan t-BHP (tert-Butil Hidroperoksida), dengan parameter pengukuran yang dilakukan meliputi MDA dan SOD. MDA (Malonildialdehid) terbentuk dari asam lemak tidak jenuh jamak (PUFA) yang mengalami proses peroksidasi menjadi peroksida lipid yang kemudian mengalami dekomposisi (Price, S.A. dan Lorraine M.W. 2006). Pada proses peroksidasi lipid MDA terbentuk relatif konstan proporsional sehingga merupakan indikator yang baik untuk mengetahui adanya peroksidasi lipid, khususnya in vitro. Cara yang paling banyak untuk mengukur MDA adalah TBA test, karena mudah dikerjakan dan dapat digunakan pada homogenat. Prinsipnya adalah adanya pengaruh asam dan panas yang akan menyebabkan dekomposisi lipid peroksida dan membentuk perubahan warna menjadi warna merah muda. Perubahan warna ini diukur melalui spektrofotometri pada panjang gelombang 532 nm(Isnansetyo, A. dan Kurniastuti. 1995). SOD (Superoxyd Dismutase) merupakan salah satu antioksidan enzimatik. Ada tiga jenis SOD yang sudah diketahui, yaitu CuZnSOD, Mn-SOD dan FeSOD. CuZnSOD dan Mn-SOD terdapat pada manusia, sedangkan FeSOD tidak terdapat pada manusia. CuZnSOD terdapat di retikulum endoplasma, nukleus dan peroksisom, sedangkan Mn-SOD terdapat di mitokondria. Logam Cu+ sebagai kaalisator sedangkan Zn++ diperlukan sebagai stabilisator enzim. Fungsi SOD untuk mempercepat dismutasi O2 dan menjaga keseimbangan antara jumlah O2*- dan pembentukan H2O2 (Priyanto. 2007).
Karena substrat SOD kurang stabil dan sukar diukur secara konvensional, ini akan menyulitkan pengukuran SOD. Saat ini tersedia metode Adenochrom Assay yang mudah dilaksanakan dan sensitif untuk mengukur aktivitas SOD. Pengukuran didasarkan pada kemampuan SOD menghambat autooksidasi spontan dari efineprin. Larutan efineprin dalam keadaan asam akan stabil, tetapi spontan akan teroksidasi dengan adanya kenaikan pH. Autooksidasi terjadi paling cepat disertai dengan terbentuknya adenokrom dengan kecepatan linier yaitu pada pH 10,2 dan suhu 30°C. Sel darah merah domba dipilih karena mudah didapat dan memiliki metabolism yang sederhana dan mudah diamati. Sedangkan t-BHP dipilih karena merupakan suatu oksidator organik yang kuat, mudah terurai dan membentuk radikal bebas (Murray, R.K.1995).
Penelitian diatas bertujuan untuk menguji potensi ekstrak etanol 70% kelopak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.) sebagai antioksidan dilihat dari parameter penurunan kadar MDA dan peningkatan aktifitas SOD terhadap sel darah merah domba yang diberikan stres oksidatif dengan t-BHP secara in vitro.
Sekian ulasan tentang antioksidan dan pengertian antioksidan