Suksesi, Pengertian Suksesi, Jenis Suksesi ( Macam Suksesi)

0
226

PENGERTIAN SUKSESI

Perubahan komposisi dan struktur dalam komunitas dapat dengan mudah di-amati atau terlihat dan seringkali perubahan itu berupa pergantian satu komunitas oleh komunitas lain setelah beberapa gangguan, seperti kebakaran besar atau ledakan gunung berapi.

Daerah yang terganggu itu bisa dikolonisasi oleh berbagai varietas spe-sies, yang secara perlahan-lahan digantikan oleh suatu komunitas spesies lain.  

Dinamika di alam adalah suatu kenyataan yang tidak dapat diingkari. Segala se-suatu yang sekarang ada sebenarnya hanyalah merupakan suatu stadium dari deretan proses perubahan yang tidak pernah ada akhirnya.

Keadaan keseimbangan yang tam-paknya begitu mantap, hanyalah bersifat relatif karena keadaan itu segera akan ber-ubah jika salah satu dari komponennya mengalami perubahan.  

Lucy E. Braun (1956) mengatakan bahwa vegetasi merupakan sistem yang dina-mik, sebentar menunjukkan pergantian yang kompleks kemudian nampak tenang, dan bila dilihat hubungan dengan habitatnya, akan nampak jelas pergantiannya setelah mencapai keseimbangan. Pengamatan yang lama pada pergantian vegetasi di alam menghasilkan konsep suksesi.

Komunitas yang terdiri dari berbagai populasi bersifat dinamis dalam interaksi-nya yang berarti dalam ekosistem mengalami perubahan sepanjang masa.

Proses per-ubahan atau perkembangan ekosistem atau komunitas yang berlangsung menuju ke-dewasaan dan keseimbangan kesatu arah yang berlangsung lambat secara teratur, pasti, dan terarah serta dapat diramalkan disebut SUKSESI.

Suksesi terjadi akibat dari modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem, dan terjadinya faktor per-saingan di antara satuan-satuan vegetasi menyebabkan perubahan ke arah tertentu.

Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas mantap (EKOSISTEM KLIMAKS), aki-bat telah tercapai keadaan seimbang (HOMEOSTATIS).

Suksesi vegetasi menurut Odum (1971) adalah urutan proses pergantian komu-nitas tanaman di dalam satu kesatuan habitat, adanya pergantian komunitas cenderung mengubah lingkungan fisik sehingga habitat cocok untuk komunitas lain sampai kese-imbangan biotik dan abiotik tercapai.

Menurut Salisbury (19..) adalah ke-cenderungan kompetitif setiap individu dalam setiap fase perkembangan sampai men-capai klimaks, dan menurut Clements (1974) adalah proses alami dengan terjadinya ko-loni yang bergantian, biasanya dari koloni sederhana ke yang lebih kompleks. 

Suksesi merupakan proses yang menyeluruh dan kompleks dengan adanya permulaan, perkembangan dan akhirnya mencapai kestabilan pada fase klimaks. 

Kli-maks merupakan fase kematangan yang final, stabil memelihara diri dan berproduksi sendiri dari suatu perkembangan vegetasi dalam suatu iklim. 

Interaksi dari semua faktor lingkungan yang berpengaruh akan menentukan komposisi jenis vegetasi komunitas. Dengan demikian keberadaan tegakan vegetasi akan bervariasi antar satu tipe dengan tipe lainnya bahkan terdapat variasi antar unit hu-tan.

Faktor lingkungan yang membatasi jumlah spesies yang hidup pada suatu tahap suksesi dikenal ke dalam dua kategori, yaitu (Mueller (1974) :

  • Faktor lingkungan yang mengakibatkan stres terdiri dari fenomena-fenomena yang membatasi hasil fotosintesa seperti cahaya, air, unsur hara tanah dan suhu;
  • Faktor yang berhubungan dengan terjadinya kerusakan baik kerusakan sebagian maupun keseluruhan biomassa vegetasi seperti serangan hama, patogen atau ma-nusia.

Umumnya komunitas tumbuhan terbentuk mulai dari tingkat pioner yang kemu-dian digeser oleh seri tumbuhan yang lebih dewasa sampai pada komunitas yang relatif stabil dan berada dalam keseimbangan dengan lingkungan setempat. 

Perubahan da-lam suksesi bersifat kontinu, dimana rentetan suatu
perkembangan dan pergantian ko-munitas merupakan suatu seri komunitas yang terbentuk pada keadaan tertentu disebut SERE, dan komunitas yang sudah mencapai kemantapan dan permanen disebut KLI-MAKS.

Proses suksesi yang berakhir dengan suatu komunitas atau ekosistem klimaks, dapat diartikan bahwa komunitas sudah dapat mempertahankan kestabilan internalnya sebagai akibat dari respon (tanggapan) yang terkoordinasi dari komponennya terha-dap setiap rangsangan yang cenderungmengganggu kondisi atau fungsi normal komu-nitas. 

Laju pertumbuhan populasi dan komposisi spesies berlangsung dengan cepat pada fase awal suksesi, kemudian menurun pada perkembangan berikutnya.

Kondisi yang membatasi laju pertumbuhan populasi dan komposisi spesies pada tahap berikut-nya adalah faktor lingkungan yang kurang cocok untuk mendukung kelangsungan hi-dup permudaan jenis-jenis tertentu.

Suksesi: Pengertian Suksesi dan jenis suksesi
Gambar 1. Suksesi pada habitat darat

Menurut Clements (1974), dalam mekanisme suksesi dikenal  adanya enam sub-komponen, yaitu :

  • nudasi :terbukanya lahan, bersih dari vegetasi
  • migrasi :tersebarnya biji
  • eksesis :proses perkecambahan, pertumbuhan dan reproduksi
  • kompetisi :adanya pergantian spesies
  • reaksi :perubahan habitat karena aktivitas spesies
  • final stabilisasi, klimaks :komunitas stabil

Beberapa ahli berpendapat bahwa proses suksesi selalu progresif (selalu meng-alami kemajuan), sehingga membawa pengertian ke dua hal:

  1. Pergantian progresif pada kondisi tanah (habitat) yang biasanya pergantian itu dari habitat yang ekstrim ke optimum untuk pertumbuhan vegetasi.
  2. Pergantian progresif dalam bentuk pertumbuhan (life form).

Akan tetapi, demikian perubahan-perubahan vegetasi tersebut bisa mencakup hi-langnya jenis-jenis tertentu dan dapat pula suatu penurunan kompleksitas struktural sebagai akibat dari degradasi setempat.

Keadaan seperti itu mungkin saja terjadi mi-salnya hilangnya mineral dalam tanah. Perubahan vegetasi seperti itu dapat dikatakan sebagai suksesi retrogresif atau regresi (suksesi yang mengalami kemunduran). 

Konsep lama tentang suksesi menyatakan bahwa suksesi berlangsung secara teratur, pasti, terarah, dapat diramalkan, dan berakhir dengan komunitas klimaks, kon-sep ini masih diterima.

Sedangkan menurut konsep mutakhir, suksesi ini tidak lebih dari pergantian jenis-jenis pionir oleh jenis-jenis yang lebih mantap dan dapat menyesuai-kan secara lebih baik dengan lingkungannya.

JENIS SUKSESI

Mueller (1974) menyatakan, suksesi ada dua tipe, yaitu suksesi primer dan suk-sesi sekunder. Perbedaaan dua tipe suksesi ini terletak pada kondisi habitat awal proses terjadinya suksesi. 

Suksesi primer(Primarysuccession) 

Suksesi primer merupakan suatu tahapan perubahan komunitas biotik ke ko-munitas biotik lain, yang dimulai dengan kehadiran tumbuhan pioner disuatu tem-pat berbatu yang belum pernah dijumpai adanya komunitas biotik tersebut sebe-lumnya, kemudian menjadi ekosistem hutan klimaks (climax forest ecosystem). 

Ter-jadi bila komunitas asal mengalami gangguan berat sekali, sehingga mengakibat-kan komunitas asal hilang secara total, dan di tempat komunitas asal terbentuk ko-munitas lain di habitat baru tersebut. 

Pada habitat baru ini tidak ada lagi organisme yang membentuk komunitas asal tertinggal, gangguan ini dapat terjadi secara alami seperti letusan gunung api, tanah longsor, endapan lumpur dimuara sungai, endapan pasir di pantai, maupun akibat aktivitas manusia seperti pertambangan, dll. 

Pada habitat tersebut secara perlahan, searah, dan pasti akan berkembang menuju suatu komunitas yang klimaks dalam waktu lama, proses ini disebut suksesi primer. Proses suksesi primer ini membu-tuhkan waktu yang lama sampai ratusan tahun. 

Suksesi primer dimulai di atas bongkahan batu pada pulau yang baru timbul, delta yang baru terbentuk, danau baru dan sebagainya. Pelapukan batu-batuan pa-da ekosistem yang rusak total karena pengaruh iklim (hari panas, kering dan waktu hujan, dingin atau basah), mengandung bahan unsur mineral dan organik yang da-pat ditumbuhi oleh tetumbuhan pioner (lumut kerak dan algae).

Pengaruh iklim te-rus berlangsung hingga bahan mineral dan bahan organik semakin tebal sehingga dapat ditumbuhi oleh tumbuhan herba dan tahunan. Jika jalannya suksesi dipenga-ruhi atau ditentukan oleh iklim disebut dengan klimaks-klimatis.

Apabila dipengaruhi oleh habitat / tanah disebut klimaks edaphis. Tumbuhan atau organisme yang mam-pu menghuni untuk pertama kalinya substrat yang baru digolongkan sebagai or-ganisme pionir yang mempunyai toleransi besar terhadap berbagai faktor lingkung-an yang ekstrim. 

Gangguan ini dapat terjadi secara alami, misalnya tanah longsor, letusan gunung berapi, endapan Lumpur yang baru di muara sungai, dan endapan pasir di pantai. Gangguan dapat pula karena perbuatan manusia misalnya penambangan timah, batubara, dan minyak bumi. Contoh yang terdapat di Indonesia adalah terbentuk-nya suksesi di Gunung Krakatau yang pernah meletus pada tahun 1883.

Di daerah bekas letusan gunung Krakatau mula-mula muncul pioner berupa lumut kerak (li-kenes) serta tumbuhan lumut yang tahan terhadap penyinaran matahari dan keke-ringan. Tumbuhan perintis itu mulai mengadakan pelapukan pada daerah permuka-an lahan,
sehingga terbentuk tanah sederhana. Bila tumbuhan perintis mati maka akan mengundang datangnya pengurai.

Zat yang terbentuk karma aktivitas peng-uraian bercampur dengan hasil pelapukan lahan membentuk tanah yang lebih kompleks susunannya. Dengan adanya tanah ini, biji yang datang dari luar daerah dapat tumbuh dengan subur. Kemudian rumput yang tahan
kekeringan tumbuh.

Bersamaan dengan itu tumbuhan herba pun tumbuh menggantikan tanaman pioner dengan menaunginya. Kondisi demikian tidak menjadikan pioner subur tapi seba-liknya. Sementara itu, rumput dan belukar dengan akarnya yang kuat terns meng-adakan pelapukan lahan.Bagian tumbuhan yang mati diuraikan oleh jamur sehingga keadaan tanah menjadi lebih tebal.

Kemudian semak tumbuh. Tumbuhan semak menaungi rumput dan belukar maka terjadilah kompetisi. Lama kelamaan semak menjadi dominan kemudian pohon mendesak tumbuhan belukar sehingga terben-tuklah hutan. Saat itulah ekosistem disebut mencapai kesetimbangan atau dikatakan ekosistem mencapai klimaks, yakni perubahan yang terjadi sangat kecil sehingga tidak banyak mengubah ekosistem itu. 

Suksesi sekunder

Proses suksesi sekunder relatif sama dengan yang terjadi pada suksesi primer.  Perbedaannya terletak pada keadaan kerusakan dan kondisi awal dari habitatnya. Terjadinya gangguan menyebabkan komunitas alami tersebut rusak baik secara alami maupun buatan, dimana gangguan tersebut tidak  merusak total komunitas dan tempat hidup organisme sehingga substrat lama (substrat tanah sudah terben-tuk sebelumnya), masih ada komunitas awal yang tersisa. Maka pada substrat terse-but terjadi perkembangan komunitas yang selanjutnya disebut suksesi sekunder.

Proses kerusakan komunitas disebut denudasi, yang dapat disebabkan oleh api, pengolahan, angin kencang, banjir, gelombang laut, penebangan hutan, dan kegi-atan-kegiatan biotis lainnya menyebabkan vegetasi asal musnah. Proses suksesi se-kunder ini membutuhkan waktu sampai puluhan tahun. 

Pada suksesi sekunder benih ataupun biji-biji bukan berasal dari luar tetapi dari dalam habitat itu sendiri. Gangguan tersebut dapat disebabkan oleh kebakaran, banjir, angin kencang dan gelombang laut (tsunami) secara alami dan penebangan hutan secara selektif, pembakaran padang rumput secara sengaja dan kegiatan biotis menyebabkan vegetasi asal musnah.

Contoh seperti tegalan, semak belukar bekas ladang, padang alang-alang dan kebun karet dan kebun kelapa sawit yang ditinggalkan, adalah sebagian dari contoh komunitas sebagai hasil dari contoh ko-munitas sebagai hasil suksesi.

Komunitas ini masih mengalami perubahan menuju kearah komunitas klimaks, kecuali bila dalam proses tersebut terjadi lagi gangguan, maka suksesi akan mundur lagi dan mulai kembali dari titik nol.

Penelitian di dekat Samarinda, Kalimantan Timur, menunjukkan bahwa pembentukan padang alang-alang terjadi hanya dalam waktu 4 tahun setelah penebangan hutan primer atau hu-tan klimaks, memperlihatkan perubahan yang terjadi setelah ditebang habis dan kemudian dibakar setiap tahun untuk dijadikan ladang padi.

PROSES TERJADINYA SUKSESI

Proses pergantian antar tingkat dalam suksesi primer untuk mencapai klimaks, dapat membutuhkan waktu puluhan, ratusan bahkan ribuan tahun. Sedangkan waktu yang dibutuhkan suksesi sekunder lebih cepat dibandingkan dengan suksesi primer.

Tingkat perubahan komunitas berlangsung dalam periode pendek dengan perkem-bangan yang cepat, hal ini disebabkan habitat (tanah dan air) sudah terbentuk untuk menyokong pertumbuhan vegetasi. Proses yang terjadi selama proses suksesi dapat diringkaskan sebagai
berikut :

  • Perkembangan sifat substrat atau tanah yang progresif, misalnya terjadinya pertam-bahan kandungan bahan organik sejalan dengan perkembangan komunitas yang semakin kompleks dengan komposisi jenis yang lebih beraneka ragam daripada sebelumnya.
  • Semakin kompleksnya struktur komunitas, peningkatan kepadatan, dan tingginya tumbuhan, sehingga dalam komunitas terbentuk stratifikasi. 
  • Peningkatan produktifitas sejalan dengan perkembangan komunitas dan perkem-bangan tanah.
  • Peningkatan jumlah jenis sampai pada tahap tertentu dari suksesi.
  • Peningkatan pemanfaatan sumber daya lingkungan sesuai dengan peningkatan jumlah jenis.
  • Perubahan iklim mikro sesuai dengan perubahan komposisi jenis bentuk hidup (life form) tumbuhan dan struktur komunitas.
  • Komunitas berkembang menjadi lebih kompleks.

Kecepatan proses suksesi pada suatu komunitas atau ekosistem dipengaruhi oleh faktor, antara lain :

  • Luasnya komunitas asal yang rusak karena gangguan
  • Jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di sekitar komunitas yang terganggu
  • Kehadiran tumbuhan pemencar biji dan benih
  • Iklim, terutama arah dan kecepatan angin yang membawa bjiji, spora dan benih la-in, serta curah hujan yang mempengaruhi perkecambahan biji dan spora dan per-kembangan semai selanjutnya.
  • Macam atau jenis substrat baru yang terbentuk
  • Sifat-sifat jenis tumbuhan yang ada di sekitar tempat terjadinya suksesi.
Suksesi, pengertian sukses dan jenis suksesi
Gambar 2. Suksesi di ekosistem daratan yang mengarah ke perairan

Jika vegetasi yang ada kemudian musnah dan timbul lahan kosong disebut lahan sekunder atau lahan terdenudasi. Suksesi sekunder mempunyai tahap yang lebih sedikit daripada suksesi primer, dan biasanya klimaks pada suksesi sekunder lebih cepat dicapai. 

Sebaliknya proses suksesi primer berjalan lambat, hal ini disebabkan oleh ke-adaan iklim batuan yang kering yang disertai belum terbentuknya tanah. 

Karenanya hanya tumbuhan tertentu yang dapat hidup pada keadaan tersebut. Spesies pertama hidup di atas habitat yang belum pernah ditumbuhi tumbuhan disebut tumbuhanpioner, contoh lumut. 

Tumbuhan lumut umumnya sangat sedikit pengaruhnya dalam penghan-curan bongkah batuan menjadi tanah. Lumut dan tumbuhan berpembuluh merupakan penyokong terbesar dalam pembentukan tanah dan vegetasi. 

Ada beberapa macam tipe suksesi berdasarkan habitatnya yaitu: 

Hidrosere 

Tipe suksesi yang berkembang di daerah (habitat) perairan yang biasanya disebut Hidrarch. Vegetasi yang sering berganti dalam hidrarch disebut hidrosere. Tipe suksesi ini tidak selalu memerlukan komunitas aquatik untuk menuju ke perkem-bangan komunitas daratan.

Jika air yang ada dalam jumlah cukup besar dan sangat dalam atau jika air selalu bergerak kuat (gelombang) atau adanya kekuatan fisik lain, suksesi menghasilkan suatu komunitas aquatik yang stabil dan sukar meng-alami pergantian.

Jadi suksesi ini hanya terjadi jika kolonisasi komunitas tumbuhan menempati kolam buatan yang kecil dan dangkal, serta diikuti terjadinya erosi  ta-nah di tepi danau, sehingga batas air akan semakin kecil dan hilang setelah waktu yang lama. Tumbuhan pelopor adalah tumbuhan air yang terendam, kemudian di-ganti tumbuhan terapung seperti eceng gondok, kemudian lumpur rawa, rumput daratan, semak dan akhirnya pohon.

Pada kolam, eceng gondok berangsur-angsur akan menutup permukaan air, kemudian akumulasi seresahnya baru menumpuk di dasar kolam dan kemudian mengubah kolam menjadi rawa dengan jenis tumbuh-an baru menggangti jenis tumbuhan sebelumnya. Secara berangsur-angsur kemu-dian habitat menjadi lebih kering dengan aerasi yang lebih baik yang akhirnya akan terjadi tanah yang cukup matang dan tebal. 

Halosere

Suksesi yang dimulai pada tanah bergaram atau air asin, biasanya dimulai dari jenis tumbuhan yang tahan kadar garam tinggi, seperti Spindifec, Ipomea pescapre dll. 

Xerosere

Suksesi vegetasi yang berkembang pada daerah xerik(kering), disebut Xerarch. Suksesi xerik biasanya terjadi pada lahan yang tinggal batuan induknya saja. De-ngan demikian tumbuhan yang mampu hidup disitu hanyalah tumbuhan yang ta-han kering dan mampu hidup di tanah miskin.

Tumbuhan pioner adalah lumut ke-rak (Lichenes) dalam bentuk lapisan kerak. Dalam proses respirasi Lichenes akan mengeluarkan CO2yang akan bereaksi dengan H2O membentuk H2CO3.  Asam karbonat ini akan bereaksi dengan bahan-bahan dari batuan induk sehingga melepaskan ikatan partikel batuan.

Partikel batuan yang lepas itu akan bereaksi de-ngan sisa-sisa Lichenes yang mengalami pembusukan,  mengikat N yang terbawa oleh air hujan. Kondisi seperti itu tidak sesuai lagi bagi lumut kerak sehingga lumut kerak mati.

Setelah itu akan muncul vegetasi jenis lain yaitu Thallus (Thallophyta). Demikian seterusnya vegetasi pertama akan memberikan pengaruh pada habitat yang tidak cocok untuk vegetasi kedua.Urut-urutan terjadinya proses ini:Lumut kerak — lumut kerak berdaun — lumut — rumput-rumputan (herbaceus) — semak (shrubs) — pohon-pohonan.

Tidak  semua proses suksesi xerik seperti di atas. Kalau habitat permukaannya merupakan pasir maka akan dimulai oleh rumput tahan ke-ring, baru kemudian semak dan pohon-pohonan. 

Suksesi xerosere, ada 3 macam, didasarkan pada substrat awal yaitu:

  1. Psammosere  : suksesi vegetasi yang dimulai pada daerah berpasir.
  2. Lithosere  : suksesi vegetasi yang dimulai pada batuan.
  3. Serule : suksesi untuk mikroorganisme (bakteri, fungsi) dalam sisa-sisa produsen/konsumen.

SUKSESI DI PERAIRAN (AQUATIC SUCCESSION)

Suksesi alami pada perairan umumnya dijumpai pada kolam-kolam dan danau yang terjadi secara bertahap akibat masuknya bahan tererosi dari sekeliling ekosistem daratan.

Proses ini terjadi karena kuantitas partikel tanah yang tererosi tidak dapat dihin-darkan dari darat dan mengendap atau tertinggal di dalam kolam atau danau. Tumbuh-an akuatik memproduksi detritus juga berkontribusi terhadap proses pengendapan.

Tahap selanjutnya terjadinya pergerakan tumbuhan darat ke arah dalam perairan se-cara bertahap yang dimulai oleh tumbuhan air ke tumbuhan darat berupa rumput-rum-putan sampai pada semak dan pohon, sehingga kolam dan danau hilang sama sekali.

Gambar 2. Suatu seri suksesi pada ekosistem danau
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here