Fungsi Testis dan Spermatogenesis

0
17

Testis

Testis memiliki dua fungsi, yaitu sebagai tempat spermatogenesis dan produksi androgen.

Spermatogenesis terjadi dalam suatu struktur yang disebut tubulus seminiferus. Tubulus ini berlekuk lekuk dalam lobulus yang semua duktusnya kemudian meninggalkan testis dan masuk ke dalam epididimis.

Produksi androgen terjadi di dalam kantung dari sel khusus yang terdapat di daerah intersisial antara tubulus.

Tubulus seminiferus pada testis dikelilingi oleh membran basal. Di dekat sisi medial membran basal ini terdapat sel progenitor untuk produksi sperma.

Epitel yang mengandung spermatozoa yang sedang berkembang di sepanjang tubulus disebut sebagai epitel seminiferus atau epitel germinal.

Pada potongan melintang testis, spermatosit dalam tubulus berada dalam berbagai tahap pematangan. Di antara spermatosit terdapat ser sertoli. Sel ini merupakan satu-satunya sel nongerminal dalam epitel seminiferus.

Sel sertoli dahulu disebut sebagai sel perawat ketika pertama kali ditemukan sertoli pada tahun 1865.

Sel ini berperan secara metabolik dan struktural untuk menjaga spermatozoa yang sedang berkembang.

Semua sel sertoli berhubungan dengan membran basal pada satu kutubnya dan mengelilingi spermatozoa yan sedang berkembang pada kutub lain.

Sel sertoli memiliki jari-jari sitoplasma yang besar dan kompleks yang dapat mengelilingi banyak spermatozoa dalam satu waktu.

Fungsi testis dan spermatogenesis
Anatomi Testis

Berbagai zat yang secara normal terdapat dalam sirkulasi dipisahkan dari cairan di dalam tubulus seminiferus.

Fenomena ini menyerupai apa yang terjadi pada otak sebagai akibat adanya sawar darah-otak.

Sistem reproduksi pria ternyata juga memiliki sawar darah-testis. Sawar ini menjadikan testis sebagai salah satu dari beberapa lokasi yang memiliki keistimewaan imunitas dalam tubuh manusia.

Sementara fungsi sawar ini tidak dapat digambarkan secara jelas, dasar ultrastrukturnya telah diketahui merupakan persambungan erat (tight junction) yang terbentuk antara sel-sel sertoli terdekat.

Sawar yang dibentuk oleh persambungan erat ini membagi epitel germinal menjadi kompartemen basal dan luminal. Kompartemen luminal, mengandung sel germinal yang matang.

Spermatogenesis

Spermatogenesis dapat dibagi menjadi tiga fase
1. Proliferasi mitosis untuk menghasilkan sel dalam jumlah banyak
2. Pembelahan mieosis untuk menghasilkan perbedaan genetik
3. Pematangan.

Fase terakhir meliputi remodelling morfologi selular yang luas yang bertujuan memfasilitasi perpindahan dan penetrasi sperma ke oosit saluran reproduksi wanita.

Sel stem spermatogonium primitif tetap dorman dalam testis sampai saat pubertas. Saat pubertas, sel-sel diaktivasi dan dipelihara dalam lingkaran mitosis pada membran basal tubulus seminiferus.

Dari tempat penyimpanan sel-sel stem yang dapat melakukan regenerasi sendiri ini timbul kelompok sel yang berbeda secara morfologi yang disebut spermatogonium A (A).

Setiap spermatogonium A ini mengalami beberapa kali pembelahan mitosis untuk membentuk suatu klon sel germinal.

Pada pembelahan mitosis selanjutnya hingga yang terakhir, sel disebut sebagai spermatogonium B dan setelah pembelahan akhir disebut sebagai spermatosit primer (Ps).

Fungsi testis dan spermatogenesis
Testis dan Bagian bagian testis

Spermatosit primer kemudian mengalami dua kali pembelahan sel meiosis.

Pembelahan yang penting ini menjadikan jumlah kromosom sel anak menjadi setengahnya.

Sel-sel yang mengalami tahap pertama dari pembelahan meiosis ini memiliki perbedaan yang khas pada morfologi intinya yang dinamakan menjadi tahap-tahap khusus yaitu Istirat (resting) (R), Leptoten (L), Zigoten (Z), pakiten,  dan diploten (Di).

Pembelahan meiosis pertama menghasilkan spermatosit sekunder (II) dan pembelahan kedua menghasilkan spermatid haploid awal (S).

Spermatid kemudian mengalami remodelling sitoplasma yang luar biasa, di mana terjadi perkembangan ekor, bagian tengah menjadi mitokondria, dan akrosom.

Hampir semua sitoplasma spermatid dikeluarkan. Hanya beberapa droplet yang tersisa, yang disebut badan residu (residual body, Rb). Badan residu ini akan dibuang di dalam epididimis selama pematangan akhir spermatozoa.

Perkembangan spermatozoa dalam epitel seminiferus pada sebagian besar spesies mamalia merupakan rangkaian kejadian yang sangat teratur dan kompleks.

Pada manusia, proses ini tampaknya sedikit tidak teratur, namun tetap mengikuti prinsip-prinsip umum yang ditemukan pada spesies lain.

Pada tahap spesies, jumlah pembelahan mitosis yang dijalani oleh spermatogonium A tetap. Pada manusia, terjadi 4 kali pembelahan mitosis.

Waktu yang diperlukan oleh spermatogonium A untuk berkembang menjadi spermatozoa yang siap memasuki epididimis juga tetap dan spesifik pada setiap spesies.

Pada manusia, proses ini membutuhkan 64 +_ 4 hari. Setelah spermatosit berlanjut ke tahap pematangan, spermatosit bergerak maju di sepanjang lumen tubulus seminiferus.

Fungsi testis dan spermatogenesis
Jaringan Testis

Sel sertoli yang membungkus spermatozoa yang berkembang bersifat homolog dengan sel granulosa di ovarium.

Sel sertoli juga berfungsi memfagosit sitoplasma spermatid yang telah dikeluarkan. Sel ini juga berfungsi pada proses aromatisasi prekursor androgen menjadi estrogen.

Suatu produk yang menghasilkan pengaturan umpan balik lokal pada sel (Leydig) yang memproduksi androgen. Sel sertoli juga menghasilkan protein pengikat androgen.

Sel leydig memiliki fungsi utama lain yaitu memproduksi androgen testis.

Sel leydig homolog dengan sel teka ovarium. Sel ini memproduksi androgen dalam jumlah yang banyak baik dari kolesterol yang bersirkulasi atau dari kolesterol yang dibuat sendiri dalam retikulum endoplasma halusnya .

Sel leydig berukuran sangat besar dan konsisten dengan aktivitas-aktivitas selularnya, tampak berbusa pada pengamatan histologi standar.

Sel yang paling mudah rusak pada testis adalah spermatogonium. Radiasi, konsumsi alkohol berlebih, defisiensi makanan, dan peradangan lokal dapat dengan cepat menyebabkan perubahan degeneratif pada sel ini.

Suhu panas yang berlebihan juga dapat menginduksikan degenerasi sel spermatogonium yang luas namun tidak mempengaruhi lamanya siklus spermatogenik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here