MORFOLOGI MANGROVE

0
53

MANGROVE

Kata “mangrove” belum diketahui secara jelas asal-usulnya hingga saat ini. MacNae (1968), menyebutkan bahwa kata mangrove merupakan perpaduan antara bahasa Portugis “mangue” dan bahasa inggris “grove”.

Sedangkan Masteller (1997), menyatakan bahwa mangrove  berasal dari bahasa melayu kuno “mangi-mangi” yang hingga kini masih digunakan oleh penduduk di Indonesia bagian timur untuk menyebut tumbuhan dari marga Avicenia.

Beberapa ahli mendefinisikan istilah mangrove secara berbeda-beda. Tomlison (1986) dan Weightman (1989) mendefenisikan mangrove sebagai tumbuhan atau komunitas yang terdapat di daerah pasang surut.

Mangrove juga di defenisikan sebagai formasi tumbuhan daerah litoral yang Khas di daerah pantai tropis dan subtropics yang terlindungi (Saenger, 1983).

Sedangkan Soerianegara (1987) mengartikan hutan mangrove sebagai hutan yang terutama tumbuh pada tanah lumpu alluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut dan terdiri atas jenis-jenis pohon Avicenia, Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Lumnitzera, Excocaria, Xylocarpus, Aigiceras, Sciphyphora dan Nypa.

Tumbuhan mangrove telah sepenuhnya beradaptasi untuk hidup di daerah estuaria dengan kondisi lingkungan yang ekstrim. Struktur morfologi dan anatomi mangrove pada dasarnya sama dengan tumbuhan tingkat tinggi lainnya.

Namun pada mangrove di jumpai beberapa ciri morfologi dan anatomi yang khas sebagai mekanisme adaptasi terhadap lingkungannya.

Mangrove mengembangkan system akar tunjang di daerah berlumpur yang labil untuk mempertahankan posisinya agar tidak mudah roboh.

System akar napas dan akar lutut juga dikembangkan untuk memperoleh oksigen bagi system perakarannya. Sebagian mangrove memiliki batang dan kulit yang tebal sebagai perlindungan bagi kondisi lingkungan yang ekstrim yang dilengkapi dengan lenti sel untuk memperlancar sirkulasi udara.

Mangrove umumnya memiliki daun tebal berdaging (Sukulen) dan dilapisi kutikula (lapisan lilin) sebagai mekanisme untuk mengurangi penguapan.

Secara aktif daun mangrove mengeluarkan kandungan garam melalui kelenjar yang terdapat pada daun untuk mempertahankan konsentrasi cairan ekstra sel yang ada dalam tubuhnya agar tetap stabil.

Bunga memiliki mahkota dan kelopak yabg tebal, berukuran kecil atau sedang, kadang berwarna menyolok dan berbau menyengat untuk menarik perhatian serangga. Beberapa jenis mangrove memiliki buah yang sudah berkecambah sewaktu masih berada dipohon induknya (vivipari).

Hal ini bertujuan untuk memperbesar peluang hidup bagi generasi mangrove berikutnya.

Vegetasi mangrove umumnya tumbuh di daerah pasang surut, salinitas sedang, terbuka terhadap empasan ombak, dengan substrat berlumpur, berpasir, gambut maupun substrat keras seperti karang.

Kondisi lingkungan yang berbede-beda tersebut mempengaruhi penyebaran jenis-jenis mangrove sehingga membentuk pola zonasi yang khas seperti zonasi Avicenia, rhizophora dan Bruguiera. Vegetasi mangrove dapat tumbuh hingga 30 m pada kisaran salinitas 10 o/oo- 30 o/oo.

Mangrove berperan penting dalam menstabilkan substrat, memerangkap sedimen, melindungi pantai dari badai, abrasi dan intrusi air laut. selain itu mangrove juga menjadi tempat untuk berlindung, mencari makan, bertelur, memijah, membesarkan anak dan berbiak bagi berbagai organisme. Banyak jenis burung air, ikan, udang dan kerang yang menjadikan daerah mangrove sebagai habitatnya.

Bagi manusia, mangrove dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan bakar dan bangunan, bahan makanan, obat-obatan, perikanan, pertanian, rumah tangga dan industry

Indonesia merupakan Negara pemilik hutan mangrove terluas (3,53 juta ha) dengan jumlah spesies mangrove tertinggi di dunia.

Di Indonesia tercatat sekitar 203 jenis tumbuhan mangrove meliputi 89 jenis pohon, 44 jenis epifit, 44 jenis herba tanah, 19 jenis pemanjat, lima jenis palma dan 2 jenis paku.

Dari 203 jenis mangrove, 43 jenis di antaranya merupakan mangrove sejati (true mangrove). Sedang sisanya di kategorikan sebagai mangrove ikutan (Associate).

Di seluruh dunia tercatat sekitar 60 jenis mangrove sejati (Senger, 1983). Dalam 10 tahun terakhir hutan mangrove di Indonesia telah berkurang 50 persen akibat pembukaan lahan untuk tambak dan pemukiman. Banyak jenis flora dan fauna kini terancam punah.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here