Penyakit Menular Seksual : Herpes Genital

0
83

Penyakit Herpes genital

Penyakit Herpes genital merupakan penyakit menular seksual yang tidak akan menghilang karena agen penyebabnya, herpes simplex virus (HSV), akan menetap sebagai infeksi laten pada ganglion akar dorsal sakralis.

Virus Herpes pada penderita herpes dapat mengalami aktivasi ulang dari fase laten oleh beberapa keadaan, antara lain demam, paparan sinar matahari, dan perubahan hormon.

Penyakit herpes menyebabkan morbiditas / tingkat kematian yang paling tinggi pada saat masa melahirkan, dan pada penderita immunocomprimised dimana bentuk diseminaa penyakit herpes dapat mengancam nyawa.

Terjangkit Penyakit herpes oleh virus herpes memiliki hubungan dengan risiko kanker serviks, menunjukkan bahwa virus herpes mungkin bekerja sama dengan HPV (virus kutil kelamin) sebagai kofaktor dalam transformasi neoplastik (penyebab kanker) atau mempercepat penularan HPV (virus kutil kelamin).

Terdapat dua tipe virus herpes yang menyebabkan penyakit herpes yaitu HSV-1 dan HSV-2. Virus herpes jenis HSV-1 biasanya asimtomatik dan hampir berada dimana-mana.

Virus herpes ini ditularkan melalui infeksi primer pada saluran pernapasan. HSV-1 ditemukan pada ganglion trigerminal pada 80 % kadaver. Kambuhnya penyakit herpes oleh jenis HSV-1 biasanya menyebabkan cold sore atau fever blister (demam panas dingin), sedangkan infeksi primer atau terinfeksi ulang dengan virus herpes dari strain yang berbeda dapat menyebabkan ensefalitis dan kebuataan akibat keratokonjungvitis.

virus herpes simplex
virus Herpes Simplex

Penyakit herpes dari virus herpes jenis HSV-2 mempunyai predileksi untuk penyakit kelamin, walaupun terdapat pula infeksi HSV-1 pada genitali dan infeksi HSV-2 pada rongga mulut.

Virus herpes jenis HSV-2 lebih sering menjadi infeksi laten pada ganglion sakralis dan penyebabkan penyakit pada neonatus dibandingkan HSV-1.Penderita penyakit herpes genital primer biasanya paling parah.

Walaupun telah jelas bahwa infeksi primer juga dapat benar-benar asimtomatik. Lebih dari 80 % penderita penyakit herpes genital primer akan mengalami pembengkakan pada penis atau vulva yang terasa nyeri dan bersifat lokal (tidak menyebar), disuria, keluarnya cairan dari uretra dan vagina, serta adenopati ingiunal yang nyeri.

Gejala lain yang akan dialami oleh penderita penyakit herpes adalah demam, sakit kepala, malaise, dan mialgia. Gejala tersebut dilaporkan terjadi pada 40 % pria dan 70 % wanita yang menderita penyakit herpes.

Retensi urin dan proktitis dapat terjadi pada penderita penyakit herpes akibat terjangkitinya saraf otonom kandung kemih dan rektum. Meningitis aseptik (penyakit pada otak ) terjadi pada 12-30 % penderita herpes dengan infeksi primer.

Rerata durasi virus untuk terlepas (shedding) dari lesi mukokutan pada infeksi HSV-2 genital primer adalah 2-3 minggu. Infeksi pertama nonprimer pada penyakit herpes cenderung lebih ringan dibandingkan infeksi pertama primer. Kemungkinan karena sebagaian imunitas humoral dan selular yang didapatkan mengandung penyebaran infeksi virus herpes.

Obat-obat yang menghambat sintesis DNA virus telah dikembangkan untuk mengobati gejala infeksi penyakit Herpes Simplex virus (HSV). Terapi akan menghentikan replikasi dan penyebaran DNA virus namun tidak mencegah infeksi laten maupun mengeradikasi virus.

Satu-satunya cara yang paling efektif untuk mencegah terjangkitnya penyakit herpes yaitu dengan tidak melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang menderita penyakit herpes. Penggunaan alat kontrasepsi seperti kondom untuk menghindari penularan penyakit herpes sangat tidak dianjurkan.

Sebagian batang penis mungkin dapat terkena vulva selama berhubungan intim dengan menggunakan kondom. Selain itu, virus herpes pada penderita herpes mampu menembus lateks (bahan kondom).

Virus Herpes (Herpes Simplex virus, HSV)

Virus herves (HSV) merupakan anggota kelompok herpesvirus dari virus DNA. Herpesviridae meliputi dua serotipe HSV (HSV-1 dan HSV-2). Sitomegalovirus (CMV), varisela zoster (chickenpox, shinles), dan virus Epstein-Barr (mononukleosis, sindrom kelelahan kronik) .

Herpesvirus lebih baik disebut kompleks dibandingkan simpleks karena memiliki struktur dan siklus replikasi yang paling rumit dari seluruh virus.

Herpes simpleks virus ditularkan saat kontak seksual dengan sekret atau bagian tubuh yang terkontaminasi virus herpes.

Virus herpes lebih rentan mengalami pengawetan dalam udara kering dan temperatur yang ekstrem, membuat penularan  oleh fomite menjadi sangat jarang.

Setelah virus mencapai sel mukosa, virus herpes menghancurkan DNA inang selama replikasi yang produktif dari virus herpes itu sendiri dan membunuh sel inang.

Virus herpes menyebar melalui kontak pada sel-sel di dekatnya dan berjalan menuju ujung saraf otonom. Sel mukosa dan kulit yang terinfeksi Virus herpes simplex memproduksi transudat serosa yang menimbulkan vesikel klasik yang terlihat pada kelainan ini.

Terdapat dua teori muncul kembalinya penyakit herpes pada penderita yang telah sembuh (reaktivasi).

Teori pertama adalah munculnya stimulus seperti cedera fisik, panas, gangguan hormonal, atau perubahan imunologis mengganggu sel ganglion inang. Sebagai responsnya, virion yang ada pada inang memperbarui sintesis DNA dan replikasi virus.

Pada teori kedua, sejumlah kecil virus secara terus menerus diproduksi oleh sel ganglion inang. Patogen ini dengan konstan menuruni akson sensorik menuju kulit. Menurut hipotesis ini, kondisi lokal akan menentukan kapan terjadi rekurensi.

Penyakit herpes pada kehamilan dan janin / bayi

90 % wanita penderita penyakit herpes dengan infeksi virus herpes tipe HSV-2 genital primer melepaskan virus dari serviks selama infeksi akut.

Persentase ini menurun hingga 70 % pada wanita penderita penyakit herpes tipe HSV-1 genital primer dan 70 % pada wanita dengan infeksi HSV-2 genital nonprimer tahap awal.50 % wanita hamil penderita penyakit herpes tipe HSV genital primer akan menularkan virus herpes kepada janin / bayi sementara hanya 5 % wanita penderita penyakit herpes tipe HSV genital rekuren akan menularkan virus herpes pada janin / bayinya.

Bayi atau janin yang menderita penyakit herpes dapat berakibat kematian. Infeksi penyakit herpes dari Ibu hamil kepada bayi atau janin dapat dicegah dengan melahirkan secara bedah sesar.Video tentang penyakit menular seksual: Herpes