Ekosistem Hutan Payau

0
39

Belajar Ekosistem Hutan Payau

Kalian tau tentang ekosistem ini? Ekosistem Hutan Payau adalah nama lain untuk ekosistem hutan mangrove. Ini merupakan tipe ekosistem yang terdapat di daerah pantai dan selalu atau secara teratur digenangi air laut.

Ekosistem hutan payau selalu dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut. Ekosistem ini terletak pada derah pantai dengan kondisi tanah berlumpur, berpasir atau lumpur berpasir. 

Ekosistem hutan Payau merupakan ekosistem yang khas untuk daerah tropis, terdapat di daerah pantai yang berlumpur dan airnya tenang (gelombang laut tidak besar). Ekosistem ini disebut sebagai ekosistem hutan payau karena terdapat pada daerah estuarin atau daerah perairan dengan kadar garam (salinitas) antara 0.5 permil-30 permil. Nama lain untuk ekosistem ini adalah ekosistem hutan pasang surut atau ekosistem estuari karena terdapat pada daerah yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut.

Keunikan dari ekosistem hutan payau adalah tidak dipengaruhi oleh iklim, akan tetapi faktor dominan yang lain dalam pembentukan ekosistem ini adalah faktor edafis. Faktor lain yang menentukan bentuk dari ekosistem hutan payau adalah salinitas atau kadar garam (Kusmana, 1997). Keunikan lainnya adalah ekosistem ini merupakan tempat terjadinya perpaduan antara organisme laut dan darat dan organisme air asin serta organisme air tawar.

Tumbuhan atau vegetasi yang terdapat dalam ekosistem hutan payau didominasi oleh tumbuhan yang berakar napas atau pneumatofora (baca metamorfosis akar) (Ewusie, 1990). Selain itu, tumbuhan yang ada dalam ekosistem ini memiliki ketahanan dan adaptasi terhadap salinitas payau dan bahkan ada tumbuhan yang hanya dapat hidup pada keadaan payau (Halophytes obligat) (Vickery, 1984).

Tumbuhan yang hidup dalam ekosistem hutan payau ini diketahui terdapat 12 genus yaitu Avicennia, Sonneratia, Rhizopora, Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus, Lumnitzera, Laguncularia, Aigiceras, Aegiatilis, Snaeda, dan Conocarpus.

Menurut Bengen (1999), terdapat 202 spesies pada ekosistem hutan payau, yang terdiri atas 89 spesies pohon, 44 spesies edafit, 5 spesies palem, 19 spesies liana, dan satu spesies sikas.

Spesies-spesies pohon utama di daerah payau membentuk tegakan murni dan merupakan ciri khas dari komunitas tumbuhannya. Spesies pohon utama seperti Avicennia spp., Sonneratia spp., dan Rhizophora spp. Akan tetapi hal ini tidaklah mutlak karena tetap dipengaruhi oleh kedalaman pantai dan ombaknya. 

Belajar biologi: Ekosistem hutan payau hutan bakau
Belajar biologi: Ekosistem hutan payau hutan bakau

Pada Ekosistem hutan payau terbagi atas beberapa zona vegetasi atau jalur tertentu sesuai dengan tingkat toleransi terhadap kadar garam dan fluktuasi permukaan air luat di pantai. Berikut zona vegetasi yang ada mulai dari arah darat ke laut.

1. Jalur transisi antara hutan payau dengan hutan dataran rendah yang ditumbuhi oleh hutan nipah. Contoh spesiesnya adalah Nypa fruticans.

2. Jalur tancang yang terbentuk oleh spesies tumbuhan Bruguiera spp. Sering juga dijumpai tumbuhan dari genus Xylocarpus, Kandelia, dan Aegiceras.

3. Jalur Bakau. Merupakan jalur yang dibentuk oleh tumbuhan utamanya dari genus Rhizophora, dan kadang ditemukan genus Bruguiera, dan Xylocarpus

4. Jalur pedada, ditandai oleh tumbuhnya tumbuhan dari genus Avicennia dan Sonneratia.

Fungsi Ekosistem hutan payau sangatlah kompleks. Menurut Bengen (1999) Ekosistem hutan payau berfungsi sebagai peredam gelombang laut dan angin badai, pelindung dari proses abrasi dan erosi, penahan lumpur dan penjerat sedimen, penghasil detritus, sebagai tempat berlindung dan mencari makan, serta tempat berpijah sebagai spesies biota perairan payau, sebagai tempat rekreasi dan penghasil kayu.

Selain itu, ekosistem hutan payau juga berfungsi sebagai habitat bagi satwa liar seperti burung (aves) dan mammalia (Hamilton dan Snedaker, 1984).Karena fungsinya yang melestarikan satwa liar, maka sangat penting  menjaga ekosistem hutan payau. 

Referensi: 

  1. Bengen, D.G. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Bogor: Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, IPB.
  2. Ewusie, J. Y. 1990. Pengantar Ekologi Tropika. Terjemahan oleh Usman Tanuwidjaja. Penerbit Institut Teknologi Bandung. 
  3. Hamilton, L.S. dan S.C. Snedaker. 1984. Handbook for Mangrove Area Management. Commision on Ecology, IUCN, Paris, France.
  4. Kusmana, C. 1997. Ekologi dan Sumberdaya Ekosistem  Mangrove. Bogor: Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB.
  5. Vickery, M.L. 1984. Ecology of Tropical Plants. John Wiley and Sons. Newyork. HLM. 56-76. Penerbit Yayasan Obor Indonesia.
Artikel terkait
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here